Mengakar untuk Masa Depan: Satu Tahun Gerakan Rakyat Kalteng Meneguhkan Aksi Nyata Pelestarian Lingkungan

Satu tahun adalah waktu yang cukup untuk membuktikan keseriusan sebuah gerakan. Bagi Gerakan Rakyat Kalimantan Tengah, peringatan hari jadi pertama bukan sekadar seremoni atau perayaan simbolik. Momentum ini dijadikan ajang refleksi, evaluasi, sekaligus penegasan arah perjuangan. Organisasi ini ingin menunjukkan bahwa komitmen terhadap masyarakat dan lingkungan bukan hanya tertulis dalam visi, tetapi diwujudkan melalui tindakan konkret.

Dalam rangka memperingati hari jadinya, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Rakyat Kalteng bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Rakyat Kabupaten Katingan menggelar aksi tanam pohon pada Minggu (22/02/2026). Pilihan kegiatan ini mengandung pesan yang kuat: menjaga lingkungan adalah prioritas yang tidak bisa ditunda. Di tengah meningkatnya ancaman banjir dan kerusakan hutan di berbagai wilayah Kalimantan Tengah, aksi penghijauan menjadi bentuk tanggung jawab moral sekaligus langkah strategis.

Kalimantan Tengah merupakan wilayah yang kaya sumber daya alam, namun juga rentan terhadap dampak eksploitasi yang tidak terkendali. Deforestasi dan alih fungsi lahan telah mengurangi daya serap tanah terhadap air hujan. Akibatnya, ketika curah hujan tinggi turun, air tidak lagi terserap optimal, melainkan meluap dan menyebabkan banjir. Kondisi ini berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan ekosistem bukan hanya agenda lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kesejahteraan bersama.

Aksi tanam pohon yang dilakukan bukan sekadar kegiatan simbolis. Ia merupakan implementasi nyata dari hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Gerakan Rakyat yang diselenggarakan pada 18 Januari 2026 di Hotel Arya Duta Jakarta. Dalam forum tersebut, isu degradasi lingkungan dan meningkatnya bencana hidrometeorologi menjadi pembahasan utama. Organisasi sepakat bahwa pendekatan partisipatif harus menjadi strategi utama dalam menjawab persoalan tersebut.

Dari komitmen itu lahirlah gerakan “Satu Orang Satu Pohon”. Program ini sederhana namun memiliki dampak kolektif yang besar. Setiap kader dan masyarakat diajak untuk menanam serta merawat minimal satu pohon. Jika langkah kecil ini dilakukan secara konsisten dan meluas, maka dalam beberapa tahun ke depan akan tercipta perubahan signifikan pada tutupan vegetasi dan kualitas lingkungan.

Ketua DPD Gerakan Rakyat Kabupaten Katingan, Sulardi, menekankan bahwa kekuatan perubahan terletak pada partisipasi. Menurutnya, perubahan besar tidak selalu dimulai dari kebijakan berskala nasional, tetapi dari kesadaran individu yang terakumulasi menjadi gerakan bersama. Menanam satu pohon mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dilakukan oleh ribuan orang, hasilnya akan menjadi kekuatan ekologis yang luar biasa.

Secara ilmiah, penghijauan terbukti efektif dalam memperbaiki kualitas lingkungan. Akar pohon membantu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, mengurangi limpasan permukaan, dan mencegah erosi. Di wilayah rawan banjir, peningkatan vegetasi dapat menekan risiko genangan air secara signifikan. Selain itu, pohon berfungsi sebagai penyerap karbon dan penghasil oksigen, sehingga berkontribusi pada perbaikan kualitas udara dan mitigasi perubahan iklim.

Wakil Ketua DPW Gerakan Rakyat Kalteng, Ali Wardana, mengingatkan bahwa berbagai bencana yang terjadi belakangan ini harus menjadi refleksi bersama. Kerusakan hutan akibat eksploitasi berlebihan telah menurunkan daya dukung lingkungan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka masyarakatlah yang akan menanggung dampaknya. Oleh sebab itu, aksi penghijauan bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi langkah preventif yang harus dilakukan secara berkelanjutan.

Momentum satu tahun ini menjadi titik tolak untuk memperkuat orientasi gerakan. Gerakan Rakyat Kalteng ingin dikenal sebagai organisasi yang bekerja, bukan hanya berbicara. Tanam pohon menjadi simbol komitmen terhadap keberlanjutan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab lintas generasi. Organisasi ini menegaskan bahwa menjaga lingkungan berarti menjaga masa depan.

Selain penghijauan, rangkaian kegiatan hari jadi juga diisi dengan bakti sosial sebagai wujud solidaritas kepada masyarakat. Kaderisasi serentak dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di internal organisasi. Upaya ini penting agar keberlanjutan gerakan tetap terjaga dan regenerasi kepemimpinan berjalan sistematis. Pemasangan atribut organisasi di sejumlah titik strategis juga menjadi penegasan kesiapan untuk terus hadir dan berkontribusi secara aktif.

Ke depan, keberhasilan gerakan ini sangat bergantung pada kolaborasi. Penghijauan akan lebih efektif jika melibatkan berbagai elemen, mulai dari sekolah, komunitas pemuda, kelompok tani, hingga pelaku usaha lokal. Dengan sinergi yang kuat, gerakan ini berpotensi tumbuh menjadi budaya kolektif yang berkelanjutan.

Bayangkan jika setiap tahun ribuan pohon ditanam dan dirawat dengan konsisten. Dalam beberapa tahun, kawasan yang sebelumnya minim vegetasi dapat berubah menjadi ruang hijau yang produktif. Ketersediaan air tanah lebih terjaga, udara lebih bersih, dan risiko bencana dapat ditekan. Manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga oleh generasi mendatang.

Satu tahun perjalanan telah menjadi fondasi yang kokoh. Gerakan Rakyat Kalteng menunjukkan bahwa komitmen tidak berhenti pada slogan. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi, memperluas partisipasi, dan memastikan setiap program berjalan berkelanjutan.

Pada akhirnya, organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Melalui aksi hijau berkelanjutan ini, Gerakan Rakyat Kalteng membuktikan bahwa perubahan dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan bersama. Menanam hari ini berarti menumbuhkan harapan untuk masa depan yang lebih hijau, tangguh, dan sejahtera.